Minggu, 24 Mei 2009

Ijtihad Nabi Muhammad SAW

Apakah Nabi Muhammad Saw pernah berijtihad

Apakah Nabi Muhammad Saw pernah berijtihad?


Para Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, hal ini terjadi karena di satu sisi ada firman Allah dalam surat al- najm (53) :

Yang artinya: Dan tiadalah ia berbicara dengan hawa nafsunya; ucapannya itu tiada lain dari wahyu yang diwahyukan.

Di sisi lain Nabi dalam kedudukannya sebagai manusia biasa berbicara dan melakukan sesuatu yang tentu keseluruhannya sebagai wahyu.1

Berikut pandangan ulama mengenai hal tersebut:


  • Jumhur Ulama berpendapat bahwa Nabi boleh dan mungkin saja melakukan ijtihad. Mereka berargumen berdasarkan dalil al-Quran, sunnah, dan argumen akal atau logika. Di antara dalil al-Quran yang mereka kemukakan adalah firman Allah dalam surat Al-Hasyr (59): 2:




Artinya: Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. Ulama jumhur memahami ayat ini sebagai dalil melakukan ijtihad. Perintah melakukan ijtihad dalam ayat ini berlaku secara umum yang berlaku untuk umat juga untuk Nabi yang dikenai Allah dalam ayat ini.


Di antara contoh ijtihad Nabi yang mereka kemukakan adalah dengan mengetengahkah asbab al- nuzul surat al-anfal (8): 67:

Yang artinya: Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.


Kemudian surat al-Taubah (9): 43:

Yang artinya: Semoga Allah memaafkanmu, mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk pergi berperang) sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang dusta.


Dalam kedua ayat tersebut, Allah menegur atau mencela Nabi atas apa yang telah diperbuatnya. Adanya kritikAllah atas apa yang telah diperbuat Nabi itu menunjukkan bahwa apa yang diperbuat Nabi dalam kedua kasus tersebut adalah semata atas hasil buah pikirannya dan tidak berdasarkan wahyu. Hal itu berarti Nabi pernah berijtihad.


  • Golongan ulama kalam al-Asy’ariyah dan kebanyakan Mu’tazilah berpendapat bahwa tidak boleh dan tidak pernah Nabi SAW melakukan ijtihad dalam bidang hukum syara’. Mereka mengemukakan argument sebagai berikut:


    • Firman Allah dalam surat al-Najm(53): 3-4:

Yang artinya: Dan tiada ia berbicara dari hawa nafsunya, tetapi tidak lain dari wahyu yang diwahyukan.


Ayat ini menunjukkan bahwa segala yang diucapkan Nabi itu adalah wahyu yang diwahyukan Allah dan bukan hasil ijtihadnya.


  • Dalam menghadapi suatu masalah hukum, Nabi dapat sampai kepada suatu ketentuan yang meyakinkan yaitu jika sudah turun wahyu Allah, atau menunggu sampai dating wahyu seandainya wahyu belum turun. Bila Nabi mampu menemukan cara yang meyakinkan yaitu melalui wahyu, tentu tidak akan memutuskan suatu masalah dengan ketentuan yang bersifat zhanni, yaitu ijtihad.

  • Sering terjadi Nabi tidak memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang diajukan kepadanya. Seandainya Nabi dapat melakukan ijtihad, tentu ia tidak perlu menunggu turunya wahyu tetapi dapat langsung memberikan jawaban dengan ijtihad tersebut

  • Ijtihad itu adalah karya akal dan berkemungkinan sekali untuk salah; sedangkan Nabi adalah orang yang ma’shum.

  • Ijtihad itu boleh berlaku seandainya tidak ada nash yang mengaturnya, baik nash al-Quran, maupun sunnah. Selagi Nabi masih hidup tidak dapat dikatakan bahwa nash sudah tidak ada. Dan selama itu pula tidak boleh ada ijtihad.


Kesimpulan: Dari kedua argument tersebut dapat disimpulkan bahwa Nabi dapat dan pernah melakukan ijtihad dalam urusan keduniawian terutama dalam masalah perang, tetapi tidak berijtihad dalam urusan hukum syara’.

1 Amir Syarifuddin. Ushul Fiqh, jilid 2, (Ciputat: PT Logos Wacana Ilmu , 2001), h. 230.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar